Showing posts with label lebah madu. Show all posts
Showing posts with label lebah madu. Show all posts

Thursday, June 12, 2014

Lebah (Pernah) Punah

Lebah memang dalam keadaan yang dikhawatirkan mendekati kepunahan karena polusi udara. Namun ternyata seranggga penghisap madu tersebut pernah punah pada zaman dinosaurus.


Sekira 65 juta tahun lalu, saat komet raksasa menabrak bumi dan menghapuskan kehidupan dinosaurus, lebah juga ikut mati dan hanya beberapa yang mampu bertahan hidup. Ilmuwan mengatakan, komet yang memporak-porandakan bumi pada masa itu turut membunuh tumbuhan bebungaan yang menjadi makanan utama para lebah.

Peneliti mengklaim, sebagaimana dilansir dari LiveScience, Senin (28/10/2013), sekira 90 persen populasi lebah punah pada masa dinosaurus. Para ilmuwan mendapatkan data tersebut bukanlah dari hasil temuan fosil lebah, melainkan mengekstrak DNA lebah. Menurut kepala penelitian, Sandra Rehan, peneliti bisa menghitung waktu berdasarkan diservikasi dan statis DNA dari lebah.
Asisten profesor di University of New Hampshire tersebut menemukan bahwa tak adanya diservikasi DNA lebah pada beberapa juta tahun lalu. "Kami bisa melacak waktu berdasarkan diservikasi dan statis. Dan kami menemukan tak adanya diservikasi genetik dalam beberapa juta tahun lamanya," kata Sandra. Ini artinya lebah sempat hilang dari bumi setelah kejadian komet menabrak bumi pada waktu itu.
Dengan temuan ini para peneliti juga mengklaim bahwa lebah memiliki tingkat daya tahan hidup yang tinggi. Seperti diketahui, populasi lebah saat ini menurun dan bisa punah jika polusi di dunia tak dikurangi.


http://techno.okezone.com/read/2013/10/28/56/888074/lebah-pernah-punah-pada-era-dinosaurus

Tuesday, June 10, 2014

Polusi Penyebab Kepunahan Lebah Madu

Meningkatnya polusi yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor mengganggu lebah madu untuk mencium wangi bunga dan membuatnya sulit melakukan penyerbukan. Fenomena ini berdampak buruk bagi manusia karena mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang menurun.

Laporan penelitian tersebut ditulis dalam jurnal Scientific Reports dan dirilis pada Kamis pekan lalu. Peneliti dari University of Southampton menemukan bahwa polusi telah mengubah wangi dari tanaman berbunga yang menyebabkan lebah madu tak menghisap madunya.

"Ini merupakan fenomena serius yang berpengaruh pada sejumlah koloni lebah madu dan aktivitas penyerbukan," kata peneliti Tracey Newsman seperti dikutip Reuters, Senin (7/10/2013).

Lebah madu memegang peranan penting dalam melakukan penyerbukan tanaman berbunga, termasuk buah-buahan dan sayuran. Pada 2011 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga melaporkan bahwa lebah dan hewan lain yang membantu penyerbukan bunga seperti kupu-kupu, kumbang, atau burung, menguntungkan manusia sebanyak USD203 miliar per tahun dengan aktivitas penyerbukannya.

Populasi lebah madu juga disebutkan mengalami penurunan pada beberapa dekade belakangan. Peneliti belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Namun pestisida bernama neonicotinoids disinyalir menjadi tersangka.



http://techno.okezone.com/read/2013/10/07/56/877801/redirect

Sunday, May 25, 2014

Lebah Punah !????

“If the bee disappeared off the face of the Earth, man would only have 4 years left to live.” - Albert Einstein

Lebah madu menyerbuki 90% dari semua tanaman berbunga di Amerika Serikat dan minimal 30 % dari seluruh tanaman di dunia. Setidaknya sepertiga dari makanan yang kita makan, tergantung pada penyerbukan.
Lebih dari 100 tanaman pangan kita memerlukan penyerbukan ini, tanaman seperti pohon almond, akan tumbuh buah hanya jika bunga mereka menyerbuk silang, membuat pertukaran genetik antara dua varietas yang berbeda.
Ilmuwan telah meneliti setidaknya ada sekitar 20.000 species lebah-lebahan di dunia. Namun sejumlah orang masih merendahkan kesejahteraan dunia yang bertumpu pada koloni lebah.
http://www.exposingthetruth.co/wp-content/uploads/2013/09/savebees.jpgPerlu diketahui bahwa jasa penyerbukan alami yang disediakan oleh serangga penyerbuk khususnya lebah jantan, adalah €153 milyar Euro, kembali pada tahun 2005, nilai mereka menyumbang setidaknya 9,5 % dari total nilai makanan dari pertanian dunia, dan bertanggung jawab untuk peningkatan senilai $ 15 miliar tanaman per tahun.
Sederhananya, jika lebah untuk penyerbukan punah, maka kita tidak memiliki tanaman bunga dan tanaman buah.

Karena jika tidak ada penyerbukan, maka tumbuhan juga tak akan dapat beregenerasi atau berkembang biak. Hal itu membuat semua rantai makanan termasuk hewan juga akan mati, begitu pula mamalia dan manusia, mirip efek domino.
Tapi apa yang terjadi sebenarnya sudah harus diwaspadai masyarakat dunia, karena koloni lebah seantero Amerika dan dunia makin lama semakin menurun drastis!!!

Lalu apa yang akan terjadi ??????

“Hilangnya semua lebah madu dewasa dalam sarang lebah, sementara larva lebah masih belum matang, dan madu pun tidak ada.”

Meskipun ia berpendapat bahwa runtuhnya koloni lebah telah berlangsung selama lebih dari satu dekade, tak semua orang tahu bahwa pada tahun 1972-2006, ada penurunan dramatis dalam jumlah lebah madu liar di AS sendiri, dan penurunan bertahap dalam koloni secara keseluruhan (Watanabe, 1994).
Kerugian tetap stabil sejak 1990-an di sekitar 22-35 % per tahun yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tungau, penyakit dan manajemen stres (Johnson, 2010).
Hal ini diyakini bahwa mungkin pestisida yang salah, pada tahun 2012 beberapa peer review studi independen menunjukkan bahwa neo-nicotinoids memiliki rute yang sebelumnya tidak terdeteksi (seperti debu, serbuk sari, nektar) yang mempengaruhi lebah dan kesehatan mereka.
Juga, bahwa toksisitas sub-nanogram mengakibatkan kegagalan lebah untuk kembali ke sarang tanpa mematikannya secara langsung, sebagai gejala utama dari CCD (colony collapse disorder).

bee neonicotinoid lebah gmo corn 02Jika tidak ada penyerbukan, maka tumbuhan juga tak akan dapat beregenerasi atau berkembang biak. Hal itu membuat semua rantai makanan termasuk hewan juga akan mati, begitu pula mamalia dan manusia, mirip efek domino.
Akibatnya, Uni Eropa (UE ) melarang pestisida neo-nicotinoid karena fakta bahwa mungkin zat tersebut yang bertanggung jawab atas runtuh koloni lebah secara terus-menerus.
Temuan ini juga memprakarsai tinjauan resmi oleh Otoritas Keamanan Makanan Eropa (European Food Safety Authority), yang menyatakan bahwa neo-nicotinoids pada pestisida yang digunakan para petani dapat menimbulkan risiko tinggi bagi koloni lebah.
Industri pestisida juga telah dituduh “sengaja menipu” dan produsen Bayer CropScience telah diminta untuk menjelaskan perbedaan dalam bukti yang telah diserahkan kepada lembaga penyelidikan.Lebah juga melakukan perjalanan jarak jauh untuk menyerbuki tanaman di daerah lain, yang menyebabkan beberapa ilmuwan percaya bahwa hal ini menyebabkan stres pada sistem kekebalan tubuh mereka dan mengekspos mereka terhadap patogen yang tidak pernah mereka gunakan. Tapi koloni yang tidak mengambilnya juga akan ikut terbunuh dan musnah.
Ketika madu dipanen, itu juga dapat menggantikan sirup jagung hasil rekayasa genetik (genetically-modified corn) yang tidak memiliki enzim yang diperlukan atau konten gizi dan nutrisi yang buruk.
Jadi diyakini bahwa “organisme yang dimodifikasi secara genetika” atau Genetically Modified Organisms (GMO) juga memiliki suatu peranan buruk yang telah dilakukan dan menimbulkan masalah terhadap lebah.
Hal ini berpotensi karena fakta, bahwa semua individu dari ‘strain transgenik’ semua identik secara genetik, dan ditanam secara monokultur, yang berarti lebah memiliki makanan yang terbatas dan tidak sehat.
bee neonicotinoid lebah gmo corn 03
Toksisitas sub-nanogram neonicotinoid mengakibatkan kegagalan lebah untuk kembali ke sarang tanpa mematikannya secara langsung, sebagai gejala utama dari CCD (colony collapse disorder).
Meskipun neo-continoids secara khusus telah dikeluarkan, tetap ada kemungkinan bahwa sebagian besar, jika tidak semua, pestisida negatif telah mempengaruhi lebah.
Dengan fungisida yang dapat menurunkan resistensi lebah,  namun bukanlah  untuk diharapkan bahwa Bt pollen (dengan insektisida di setiap sel) dan total herbisida seperti yang disemprotkan pada kebanyakan transgenik  bertanggung jawab dalam hal ini.
Saat ini, tidak ada banyak data pendukung disetujui dari independen peer-review  tentang kerusakan langsung atau tidak langsung terhadap lebah yang disebabkan oleh tanaman rekayasa genetik (Duan, Marvier, Dively, & Huang, 2008) .
Hal ini diduga, bahwa lebih dari mungkin, ada banyak faktor yang berperan memberikan kontribusi terhadap masalah ini.

Tapi satu hal yang pasti adalah: masalah yang ditimbulkannya adalah nyata, dan tangan-tangan penyerbuk listrik bertenaga listrik tidak mrmiliki jawabannya.

 
Semua elemen dari suatu ekosistem sangat penting, dan memainkan peran mereka sendiri yang berbeda dalam fungsional holistik ekosistem tersebut.

Jika Anda menghapus salah satu unsur itu maka akan dapat menyebabkan tingkat kehancuran tertentu, dan sistem alami akan perlu melakukan penyesuaian, yang bisa positif atau negatif dan berada di luar kendali kita.

bee neonicotinoid lebah gmo corn 04 

adopted from : http://indocropcircles.wordpress.com/2014/01/13/koloni-tawon-musnah-apa-yang-akan-terjadi/ 

Wednesday, May 21, 2014

Lebah Hilang!!

Oleh Maria Hartiningsih

KOMPAS.com - Albert Einstein (1879-1955) bukan entomologis. Ia juga bukan peternak lebah. Namun, kutipannya yang dianggap kontroversial adalah tentang lebah.

Kutipan sang genius, penemu teori relativitas; konsepsi baru tentang waktu, itu adalah ”Kalau lebah menghilang dari permukaan bumi, manusia hanya punya sisa waktu hidup empat tahun. Tak ada lagi lebah, tak ada lagi penyerbukan, tak ada lagi tumbuhan, tak ada lagi hewan, tak ada lagi manusia.”

Kutipan apokaliptik di koran-koran besar dunia sejak tahun 1994 itu memicu perdebatan tentang otentisitasnya. Orang melupakan pesannya: tanpa jutaan organisme yang bekerja dalam konser kehidupan, biosfer tidak berfungsi. Tak ada oksigen untuk bernapas, air bersih untuk diminum, tanah subur untuk menanam, hasil yang bisa dipanen, dan makanan untuk dimakan.

Lebah menghilang

Tahun 2006, publik di Eropa dan Amerika Serikat dihebohkan laporan The Daily Telegraph tentang colony collapse disorder (CCD). Bank agribisnis, Rabobank, menyatakan, koloni lebah yang gagal bertahan pada musim dingin tahun 2011 di AS naik 30-35 persen dari 10 persen. Hal yang sama terjadi di Amerika Latin.

Di Jerman, Asosiasi Peternak Lebah menyatakan, populasi lebah menurun sampai 25 persen. Di beberapa wilayah, lebah bahkan menghilang tanpa bekas. Mereka menduga ada sejenis racun yang menghancurkan koloni-koloni lebah, selain meluasnya penggunaan benih transgenik yang melemahkan sistem tubuh lebah dan membunuhnya.

Profesor Keith S Delaplane dari Departemen Entomologi University of Georgia, Athens, AS, dalam artikelnya, ”On Einstein, Bees and Survival of Human Race” (2010), menulis bahwa hancurnya koloni lebah tak hanya menjadi keprihatinan peternak lebah. Hal terpenting bukan madu, melainkan penyerbukan, dan terkait pasokan pangan.

Meskipun demikian, pernyataan Einstein tetap dianggap berlebihan. Bukankah tanaman pangan seperti jagung, gandum, dan padi diserbuki oleh angin? Benarkah kehidupan manusia bergantung pada lebah?

Produk karbohidrat seperti jagung, gandum, dan padi adalah bahan pangan penting, tetapi manusia butuh keragaman makanan.

Entomologis SE McGregor dalam Insect Pollination of Cultivated Crops Plants (1976) menyatakan, ”Sepertiga dari makanan kita, langsung atau tak langsung, bergantung pada produk dari tanaman yang diserbuki serangga. Lebah madu berperan atas tiap kunyahan ketiga dari makanan yang kita kunyah.”

Semakin penting

Sejak tahun 1976 sudah diperkirakan, ekonomi dunia akan dipicu perdagangan daging sapi, produk susu, minyak biji-bijian, dan buah-buahan. Hasil pertanian dan peternakan semakin menjadi santapan penting manusia meski tak bisa digeneralisasi.

Oktober tahun lalu, National Academy of Sciences mengindikasikan, sektor pertanian AS terlalu bergantung pada lebah madu sebagai penyerbuk. Reuters melaporkan, produksi pertanian AS yang bergantung pada lebah mencapai 15 miliar dollar AS per tahun, hampir sepertiga produk pertanian pangan di AS.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), sepanjang 1961-2006 produksi makanan global dari tanaman yang diserbuki hewan—80 persennya oleh lebah madu—berkisar 5 persen di negara maju dan 8 persen di negara berkembang.

Delaplane menulis, 75 persen tanaman di dunia mengambil manfaat sampai tingkat tertentu pada penyerbukan oleh hewan dan hanya 10 persen dari 75 persen tergantung sepenuhnya dari penyerbukan oleh hewan.

Akan tetapi, kebutuhan pada bahan makanan dari tanaman yang diserbuki hewan terus tumbuh, dari 3,6 persen tahun 1961 menjadi 6,1 persen tahun 2006. Semakin banyak orang suka es krim, tar blueberry, cokelat almond, kopi, dan berbagai jenis buah.

Maka Indeks PBB tentang Harga Pangan menjadi semakin penting untuk mengetahui seberapa risiko berkurangnya lebah madu memengaruhi ketahanan pangan.

Kendati demikian, karena tanaman yang bergantung pada penyerbukan hewan cenderung rendah tingkat produksinya dibandingkan yang tak bergantung pada penyerbukan, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan hasil tunai pengerukan perut bumi dan penggundulan hutan, habitat mereka makin terusik.

Jaring kehidupan

Perubahan iklim yang dampaknya makin jelas menjadi ancaman paling serius terhadap kehidupan. Sebagian besar dipicu keserakahan manusia yang membongkar perut bumi, menguras lautan, mencipta dan menggunakan bahan kimia dan benih rekayasa genetika dalam pertanian, serta membangun infrastruktur yang merangsek ke hutan. Hasil ikutannya adalah serbuan spesies asing, polusi, kekeringan, dan bencana, yang menghancurkan habitat satwa dan serangga liar.

Di Molo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, sampai akhir tahun 1990-an, sarang lebah bergelantungan di ranting-ranting pohon madu. Lebah bahkan membuat koloninya di batu.

Namun, pembongkaran batu marmer di gunung-gunung batu yang makin eksploitatif sejak tahun 2000-an menghancurkan bukit- bukit hijau. Keindahan daerah pegunungan tersubur di wilayah Timor dengan keragaman hayati di hutannya habis dilumat.

”Lebah hilang, sekitar 75 persen pohon madu habis,” ungkap Nifron Ba’un (33). ”Semua hancur, termasuk ritual adat dan kegiatan yang terkait alam. Kebersamaan hilang, tak ada lagi yang dipanen bersama.”

Kompleksitas yang menakjubkan dan keelokan alam adalah hasil dari rentang panjang evolusi, dirayakan berbagai komunitas di pojok-pojok bumi dengan berbagai ritual yang digolongkan sebagai sisa-sisa pagan.

”Kami sudah melakukan ritual memanggil lebah, tetapi belum berhasil. Masyarakat makin tak yakin pada ritual adat karena dikafirkan agama,” ujar Nifron.

Dalam penghancuran alam, pernyataan Einstein sungguh telak, ”Hanya dua hal yang abadi, semesta dan kebodohan manusia. Namun, aku tak yakin dengan yang pertama.”


(http://sains.kompas.com/read/2012/12/19/20570889/Albert.Einstein.Tentang.Hilangnya.Lebah)